Rabu, 04 November 2009

Pernak-pernik Dunia Foto PreWedding



Satu buah foto bisa mengeluarkan ribuan kata-kata. Dia mampu bercerita banyak hal. Jika Anda ingin berbagi kisah menarik kepada orang lain, pajanglah foto-foto kenangan Anda dalam beberapa bingkai. Selanjutnya, biarkan orang menikmati “cerita” yang mengalir dari foto yang Anda pajang tadi.

Begitu juga dengan foto-foto prewedding. Foto-foto prewedding adalah cuplikan masa-masa indah calon kedua pengantin sebelum memasuki jenjang pernikahan. Kelak, foto-foto itu akan menjadi kisah masa lalu yang indah untuk diceritakan kepada anak dan cucu. Foto prewedding juga bisa menjadi obat penawar ketika sebuah rumah tangga memasuki saat yang suram dan getir. Dengan melihat foto-foto masa lampau yang penuh kebahagiaan, kekuatan terhadap komitmen yang telah dibuat sebelumnya bisa menyala dan kembali “hidup”.

Ada dua macam fotografi prewedding, yakni outdoor prewedding dan indoor prewedding. Kebanyakan calon pengantin lebih memilih pemotretan outdoor prewedding ketimbang pemotretan indoor prewedding. Sebab, dalam outdoor prewedding, selain lokasinya bervariasi, calon pengantin juga bisa lebih berekspresi dan menikmati sesi pemotretan.

Dibanding dengan fotografi indoor, tentunya fotografi outdoor memiliki keunggulan tersendiri. Meskipun sang fotografer dalam fotografi indoor dapat mengatur sendiri sumber dan arah cahaya lampu kilat (blitz), hasil fotonya tidak bisa menyamai hasil fotografi outdoor.

Sama seperti semua elemen dalam dunia pernikahan, foto pre-wedding juga memiliki tren sendiri. Pada awalnya, banyak pasangan yang memilih lokasi pemotretan di museum, taman kota, kebun teh di daerah puncak, atau di pantai. Pose-posenya pun masih terbilang klasik: berpegangan tangan seraya berpelukan atau memandang satu sama lain.

Lalu, mungkin karena merasa lokasi-lokasi tadi sudah biasa, banyak pasangan yang memberanikan diri melangkah ke kelas yang lebih tinggi, misalnya dengan memilih pemotretan outdoor yang lokasinya terbilang jauh, seperti di Singapura, Eropa, atau Amerika. Bahkan dalam urusan posenya, sudah banyak pula yang menerapkan style ala majalah fashion.

Jangan asal memilih lokasi pemotretan, pilihlah lokasi yang betul-betul indah untuk diabadikan. Jika lokasi pemotretan kurang indah, biasanya fotografer hanya akan mengambil foto-foto secara close up. Jika memang demikian, maka hasilnya tidak akan berbeda jauh dengan hasil foto studio. Cuaca di lokasi pemotretan juga berpengaruh sekali terhadap keindahan hasil akhir foto outdoor. Tapi, biasanya, yang menjadi lokasi pemotretan pre-wedding adalah museum-museum, taman kota, kebun teh di daerah puncak, atau pantai.

Bisa juga lokasinya adalah tempat favorit yang biasanya dikunjungi si pasangan, misalnya tempat makan atau tempat khusus untuk sekedar mengobrol menghabiskan waktu. Dan jangan khawatir meskipun tempat itu hanyalah sebuah rumah makan kecil di sudut kota. Sebab, dengan kecapakapan dan kejelian sang fotografer, serta ekspresi “hidup” kedua calon pengantin, fotofoto yang dihasilkan akan terlihat “bercerita”.

Atau bisa juga menggunakan latar kampus bila memang kedua calon pengantin bertemu pertama kali di kampus yang sama, lengkap dengan dandanan seperti dulu ketika masih menyandang status mahasiswa. Calon pengantin juga bisa mengingat kenangan yang paling indah pada saat pertama kali bertemu dan mengejawantahkannya dalam bentuk pose-pose. Dijamin seru!

Bahkan tempat-tempat yang tidak biasa juga bisa dijadikan latar yang menarik, misalnya di tengah padatnya lalu-lintas, di dalam bus transJakarta, di pasar kaget malam hari, halte, jembatan penyeberangan, atau bahkan di mal. Pemoteratan dengan ide-ide tidak biasa ini sangat menarik dan membutuhkan keberanian karena si pasangan harus berekspresi di area publik.

pasarkreasi.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar