Tampilkan postingan dengan label kursus anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kursus anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2009

Melatih Anak dengan Gambar

Merangsang kreativitas anak bisa dilakukan dengan mengenalkan pada bahasa gambar. Gambar-gambar tertentu dengan warna beragam bisa jadi daya tarik tersendiri untuk buah hati Anda. Gunakan media buku yang berukuran besar agar gambar terlihat lebih jelas dan terang. Gambar-gambar tertentu dengan warna beragam bisa jadi daya tarik tersendiri untuk si kecil.

Sebaiknya aktivitas perkenalan ini dilakukan sedini mungkin. Anda bisa memulai mengajak berjumpa gambar-gambar aneka hewan liar, baik yang sudah punah maupun masih ada. Misalnya, dinosaurus, harimau, serigala, badak, dan lain sebagainya.

Dampingi anak Anda dengan media buku dan pada saat Kursus Gambar tersebut. Pilihlah buku-buku yang bisa merangkum semua. Misalnya, buku tersebut mengajak anak untuk memperkaya dan menambah kosakata, berhitung, menyusun gambar, mewarnai, melengkapi huruf pada nama-nama binatang, acak kata atau teka-teki, menebalkan huruf- huruf yang samar, dan aktivitas menempel dengan stiker.

Bacakan nama-nama atau keterangan pada gambar secara jelas dan terang. Jangan lupa ulangi, nama-nama hewan tersebut agar anak turut menirukan dan mengingatnya. Berikan satu contoh cara mewarnai atau menebalkan huruf.

Aktivitas belajar dan Kursus Gambar di atas selain bisa merangsang kreativitas anak, juga bisa melatih motoris, daya ingat, kesabaran, dan ketekunan anak.

vivanews.com

Selasa, 29 September 2009

Sanggar Lukis Tempat Mengasah Bakat Kemampuan Anak

Seperti seorang arsitektur, desain grafis, visual artistik maupun animasi, bahkan dokter sekalipun, seni dapat menjadi tambahan ilmu yang ditekuninya. “Pandai melukis kan juga dapat menjadi modal untuk menggambar anatomi manusia misalnya,” tambahnya lagi. Bahkan salah satu murid Makmur sekarang sudah di Thailand dan bekerja sebagai desainer interior hotel.

Murid-murid Makmur bukan hanya didominasi oleh kalangan anak-anak kecil dan remaja saja, beberapa orang dewasa dengan beragam profesi juga ikut mendalami seni lukis bersama dengan dirinya. Termasuk itu beberapa guru dan kepala sekolah. Menurut Makmur, guru-guru tersebut bergabung di sanggarnya guna mempermudah cara penyampaian pelajaran kepada para muridnya.”Untuk anak-anak SD kan biasanya lebih gampang kalau belajarnya memakai media lukisan, jadi mereka (guru-guru-red) belajar di sini, ya salah satu tujuannya seperti itu,” papar Makmur.

Mengarahkan Hobi Melukis

Karena setiap anak memiliki perbedaan. Metode pelajaran di sanggar ini juga berbeda-beda untuk setiap anak. Tergantung sudah sejauh mana kemampuannya. Anak TK biasanya diajari mewarnai dan melengkapi gambar yang sebelumnya sudah selesai setengah atau belajar dengan Baby Flashcards.

Kemudian berlanjut pada kreativitas melukis menggunakan cat air, krayon. Menggambar dengan krayon biasa dan krayon neocolor I, melukis pakai cat air, cat minyak, cat acrylic dan cat air poster.

Setiap alat lukis memiliki teknik yang berbeda. Contohnya cat air poster lama kering. Tak sama dengan cat acrylic yang cepat kering. Sehingga dalam proses menggambar tidak boleh berhenti karena akan membuat hasilnya berbeda. “Saya hanya ingin mengarahkan bakat anak saja, kalau jadi pelukis atau tidaknya terserah dia,” ujar Harwi, salah seorang orangtua yang menemani anaknya kursus lukis di Sanggar Lukis.

Harwi memberi contoh anaknya, Rangga yang saat ini berusia 9 tahun memang sangat hobi menggambar dan sering mengikuti kompetisi lukis. Meskipun belum pernah menang, hobi Angga terhadap lukisan mendorong dirinya untuk memberikan arahan kepada buah hatinya untuk mengembangkan bakat lukisnya dengan bergabung di sanggar lukis.“Karena saya melihat dia suka gambar tak ada salahnya saya masukkan ke sini,” tambah perempuan yang berprofesi sebagai guru TK ini.

Tak jauh beda dengan Harwi, Efi, ibunda dari Filza Alyani mengaku mendukung bakat Filza yang suka corat-coret dengan memasukkannya di sanggar seni. Apalagi Filza yang sekarang ini baru berusia 6 tahun sudah memiliki prestasi yang membanggakan di bidang seni lukis. Di rumahnya sudah tersimpan sekitar 50-an piala yang berjejer rapi (Sandal Lucu).

Sebagai orangtua, Efi tidak terlalu memaksakan anaknya untuk berkreasi. Filza yang juga masih sekolah di TK Aba 13 Helvetia hanya diberikan dorongan dan motivasi saja. “Filza kan masih anak-anak, mungkin ini hanya kesenangannya saja. Kita lihat saja ke depan nanti. Sebagai orangtua kita ingin memberikan jalan bagi anak-anak untuk berkreasi,” pungkasnya.

harian-global.com

Selasa, 15 September 2009

Tips Mencari Tempat Les si Buah Hati

1. Perhatikan kualitasnya

Mencari tempat les sama pentingnya dengan cari sekolah. Jangan asal murah maka kualitas tempat les tersebut Anda abaikan sama sekali. Seperti kata sebuah iklan motor di televisi: "Boleh murah tapi jangan murahan". Artinya, selain pertimbangan biaya, pertimbangkan juga kualitasnya. Ya nggak? Kenapa? Karena memang kualitas tempat les buat anak akan menentukan pula bagaimana kemampuan si anak kelak terhadap materi les yang diajarkan kepadanya.

Ada
3 cara. Pertama, perhatikan kualitas lulusan atau mantan siswa yang pernah belajar di sana. Anda bisa melihat atau menanyakan kepada mereka, bagaimana kualitas tempat kursus English tersebut misalnya. Kalau memang kualitas lulusan atau mantan siswanya cukup berprestasi Anda bisa cukup yakin bahwa tempat les tadi cukup baik kualitasnya.


Yang kedua, lihat kemampuan staf pengajarnya. Anda harus memastikan apakah staf pengajarnya memiliki cukup pengetahuan, tahu bagaimana memotivasi siswa dan memahami karakter anak-anak. Yang ketiga adalah metode pendidikan yang ditawarkan. Pastikan bahwa metode pendidikan yang ditawarkan cukup baik. Dengan demikian, uang yang Anda keluarkan tidak akan sia-sia.


2. Cek lokasinya


Nah, ini. Masalah lokasi itu cukup penting lho karena bisa berpengaruh banyak terhadap biaya transportasi yang akan Anda keluarkan untuk si anak. Kalau tempat lesnya cukup jauh dari rumah, maka biaya transportasi yang dikeluarkan akan cukup besar, selain ada risiko anak juga akan mengalami kelelahan di perjalanan yang ujung-ujungnya bisa berpengaruh juga kepada penguasaan materinya. Sebagai tambahan, selain biaya transportasi, Anda juga harus mempertimbangkan untuk memberikan sedikit tambahan uang jajan buat si anak selama ia belajar di tempat les.


3. Lihat lingkungannya


Lingkungan les pendidikan atau les ekstrakurikuler seperti
les ballet biasanya akan berbeda dengan lingkungan sekolah karena teman-temannya juga akan berbeda, sehingga sangat penting memang untuk memperhatikan lingkungan tempat les yang akan dimasuki anak.
Contoh lainnya, ternyata teman-teman les si anak adalah anak-anak yang berperilaku kurang sopan dan nakal. Hal itu tentu sedikit banyak bisa berpengaruh terhadap diri si anak. Kalau ia tidak cocok, maka ia akan cenderung menyendiri. Tetapi kalau ia cocok dan ingin ikut-ikutan, maka ia bisa saja jadi berperilaku seperti teman-temannya tadi. Jadi, sekali lagi, lingkungan belajar yang baik, akan memberikan manfaat yang baik pula bagi anak Anda. Ujung-ujungnya, lagi-lagi, uang yang Anda keluarkan tidak akan sia-sia kalau memang Anda bisa memilih tempat les yang memiliki lingkungan yang baik.

4. Ajak anak Anda


Yang akan mengikuti les itu adalah anak Anda, bukan Anda. Karena itu, coba deh ajak dia untuk ikut mengecek tempat-tempat les tersebut sebelum Anda betul-betul memasukkannya ke situ. Sesekali tanyakan padanya apakah ia cocok dengan tempat kursus tersebut. Tanyakan juga padanya apakah ia nyaman dengan lingkungan tempat lesnya. Sebagai tambahan, pastikan juga bahwa ia tidak merasa terpaksa mengikuti les belajar tersebut. Ingat, jangan terlalu memaksakan kehendak Anda pada dirinya. Berusahalah untuk membujuknya dengan cara-cara yang menarik, agar ia juga bisa menikmati proses belajar yang ia jalani. Mungkin bukan hanya pelajaran formal saja yang harus diberikan les, semacam
kursus gambar juga bisa menjadi alternatif pendidikan mereka.


www.perencanakeuangan.com


Dukung kampanye
stop dreaming start action