Kamis, 18 Februari 2010

Memilih Pengasuh Bayi yang Tepat

Pastinya, sebelum bekerja kembali, Anda ingin segala sesuatunya di rumah berjalan dengan baik. Kehadiran si kecil, yang telah membuat hidup Anda dan suami jauh lebih bermakna, menimbulkan persoalan baru. Siapa yang akan menjaga dia saat Anda bekerja di kantor?

Beruntunglah bila Anda masih memiliki orangtua atau sanak saudara terdekat yang bisa dititipi anak. Namun, tak semua orang memiliki famili yang dapat mengurus anak. Andaikan mereka bersedia, boleh jadi Anda tetap harus mempekerjakan seorang pengasuh bayi atau baby sitter untuk mengurus keperluannya. Artinya, orangtua atau famili Anda bertindak sebagai ’mata ketiga’ yang mengawasi keseharian si kecil.


Dengan berbagai alasan, memilih
pengasuh anak bayi memang memerlukan kejelian tersendiri. Rekomendasi dari yayasan, sebaiknya tidak dianggap sebagai ’prestasi’ yang mutlak. Toh, yayasan berkepentingan menyalurkan anggotanya supaya memiliki pekerjaan. Karena itu, lebih baik Anda mengandalkan rekomendasi dari orang lain, misalnya teman, saudara, dan orang yang dapat dipercaya, atau orang lain yang pernah menggunakan jasa yayasan atau pengasuh anak tersebut.


Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih pengasuh anak?


1. Bila tidak ada rekomendasi dari orang biasa yang Anda percayai (teman, saudara, dsb), pergilah ke yayasan yang sudah terkenal dan memiliki reputasi positif. Anda bisa bertanya pada orang lain yang telah lebih dulu menjadi klien yayasan tersebut.


2. Pada saat memilih pengasuh anak, lakukan wawancara dengannya dan perhatikan caranya menjawab. Apakah logis, sopan, dan menunjukkan intelegensia yang cukup dan sesuai dengan kondisi rumah Anda.


3. Benarkah ia suka anak-anak? Lontarkan pertanyaan ini, walaupun bisa saja ia berbohong. Karena itu, kejar dengan pertanyaan lain, seperti apakah ia dulu mengasuh adik atau keponakannya? Apa pengalamannya yang berkesan saat mengasuh anak? Apa yang paling ia sukai saat mengasuh anak?


4. Lihat apakah ia tergolong pencinta kebersihan. Bayi identik dengan kebersihan, sebab itu, siapa pun yang berada dekat bayi, diharapkan juga bersih dan tidak membawa kuman penyakit.


5. Pengalamannya bekerja. Bila Anda memilih pengasuh anak senior, artinya ia telah pernah bekerja. Tanyakan pengalamannya tentang mengasuh anak sebelum ini, di mana saja ia bekerja, dan mengapa ia berhenti (boleh jadi ia bukan dipecat, misalnya majikan pindah ke luar kota dan lain sebagainya).


6. Caranya mengasuh anak. Tanyakan beberapa hal yang intinya merupakan ujian untuk kecakapannya, seperti bagaimana caranya memandikan bayi, apa yang harus dilakukan bila bayi demam, bagaimana menyendawakan bayi, dan semacamnya.


7. Teliti filosofi dan pendapatnya. Maksudnya, apakah dalam wawancara singkat itu terlihat bahwa Anda dan dia memiliki kesesuaian dalam mengasuh anak. Seperti, bahwa Anda tetap akan terlibat dalam pengasuhan, kendati berada di kantor.


8. Tes kesehatan. Karena bayi tergolong rentan, usahakan memperoleh pengasuh yang sehat. Bila mana ia menderita bronchitis misalnya, mungkin ia tidak dapat diterima sebagai pengasuh.


9. Gunakan intuisi. Memang, gambaran tentang pengasuh anak yang ideal belum tentu ada di dalam seorang calon pengasuh anak. Namun, cobalah gunakan intuisi, sehingga Anda bisa merasa lebih pasti.


dinoyudha.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar