Senin, 15 Februari 2010

Trik Meng-up Grade Pembantu Jadi Babysitter



Seorang bapak bekirim surat ke sebuah koran nasional. Ia berkeluh kesah tentang kondisi ekonomi sekarang yang dirasakannya sungguh berat. Dalam penuturannya ia mengungkapkan bahwa gajinya jika digabung dengan gaji istrinya tak lebih dari Rp3,5 juta. Padahal harga-harga sudah meroket, terutama harga bahan-bahan pokok, termasuk susu untuk si kecil.

Kondisi ini mau tidak membuatnya pusing tujuh keliling mengingat ia harus menggaji seorang pembantu ditambah seorang babysitter. Kalau untuk gaji pembantu dan babysitter saja sudah Rp1,2 juta, bagaimana harus memutar otak agar bisa membayar tagihan PLN, pulsa telepon, cicilan rumah, transportasi ke tempat kerja, dan sebagainya.

Setelah dipikir-pikir, si bapak tadi berencana tidak memakai jasa Penyalur Baby Sitter lagi. Tapi bagaimana dengan anaknya yang masih bayi? Apakah menghentikan babysitter akan mendatangkan masalah baru dengan pengasuhan anaknya? Bisakah pembantu rumah tangga ditingkatkan kemampuannya sehingga setara dengan babysitter?

SELEKSI DULU
Psikolog yang lama bergelut dengan masalah anak dan keluarga, Dra. Tisna Chandra, menegaskan boleh-boleh saja jika ingin meningkatkan kemampuan/keterampilan PRT setara babysitter. Namun, pesannya, kita tidak boleh sembarangan melakukan up grade PRT. Pasalnya, babysitter bertugas mengurusi buah hati kita, bukan mengurusi benda-benda rumah di dapur, di ruang tamu, atau ruang lainnya. Berikut sejumlah kriteria yang harus diperhatikan saat menyeleksi pembantu agar bisa di-up grade.

1. Bisa baca tulis
Kenapa? Sebab ia akan seharian bersama anak dan bukankah kita biasanya sering mendelegasikan sesuatu kepadanya lewat catatan-catatan yang kita buat. Belum lagi jika kita meminta ia untuk menemani anak belajar. Kemampuan baca tulis tentu akan lebih bisa diharapkan. Setidaknya ia haruslah mengenyam pendidikan setingkat SLTP.

2. Berkepribadian baik
Ia pun sebaiknya memiliki kepribadian yang baik. Misalnya, bertemperamen positif, tidak gampang marah, memiliki kecintaan pada anak, pandai menjaga kebersihan tubuh, dan lainnya. Kalau kepribadiannya terbukti tidak baik, sebaiknya jangan dipaksakan karena malah akan merusak pertumbuhan anak. Contohnya, kerap berkata kasar dan jorok, tidak menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kita tentu khawatir anak akan ikut-ikutan dan ini tentu tidak baik bagi perkembangan anak.

3. Punya keinginan belajar
Mengasuh anak memiliki "ilmu" tersendiri. Setidaknya PRT harus memahami masalah perkembangan, kesehatan dan kepribadian anak. Selain itu PRT yang dimaksud harus memiliki keinginan untuk belajar. Dari tidak tahu sama sekali menjadi tahu dan kemudian melaksanakan/menerapkannya. Jika ia tidak punya keinginan belajar akan sulit baginya untuk bisa mengasuh dan merawat anak dengan baik.

IKUTKAN TRAINING
Jika kualifikasi pembantu yang ingin di-up grade sudah cocok, barulah kita bisa mendidiknya. Pendidikan ini dapat dilakukan sendiri ataupun dengan mengirimkannya ke tempat pelatihan atau Penyalur Baby Sitter. Di tempat tersebut si PRT akan diajarkan mengenai banyak hal, dari teori sampai berbagai praktik kerja seputar pengasuhan anak.

Hanya saja, Tisna berpesan, seorang PRT yang sudah ditingkatkan kemampuan dan tanggung jawabnya, yaitu menjaga dan merawat anak, sebaiknya juga mendapat peningkatan penghasilan.

m.kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar