Jumat, 23 Oktober 2009

Gaya Modifikasi Mobil = Fungsional + Ekonomi



Resesi, jatuhnya kurs rupiah dan kenaikan harga, efeknya sampai ke pelaku Modifikasi Mobil. Mulai akhir 2008 sampai 2009 ini, konsumen jadi lebih kritis. Modifikasi mobil enggak sekadar ikut tren, umumnya jadi lebih efisien dan memakai skala prioritas dalam memodifikasi mobil. Pilihan aksesori dan gaya modifikasi mobil dilakukan dengan pertimbangan fungsi dan harga. Gaya dandan seperti ini yang bakal mewarnai tahun 2009, fungsional dan ekonomis.

Karena masalah harga, aksesori impor asal Jepang atau Eropa hanya kini jadi pilihan sebagian kecil penggemar modifikasi mobil yang tidak sensitif harga alias berkantong tebal. “Barang orisinal impor makin susah dijual, kita sediakan by order aja. Sekarang logo orisinal dari Jepang bisa sampai Rp 800 ribu, jadi enggak masuk akal. Pemakai mobil kebanyakan bakal lebih condong ke produk replika bikinan Taiwan atau second,” kata Agus Djaja Somad dari Autoline.

Pelek replika bikinan Taiwan, untuk yang baru harganya sekarang berkisar Rp 4-5 juta untuk diameter 17 inci, sampai Rp 9 juta untuk diameter 19 inci. “Karena ekonomi lagi susah, buat sebagian orang terasa mahal juga. Jadi larinya ke pelek second, harganya bisa berkurang sampai 30 persen,” bilang pemilik bengkel dan toko aksesori di Kedoya, Jakbar ini.

Untuk yang mementingkan image dan kualitas, pelek Jepang second bisa jadi pilihan. Tapi sekarang harganya juga terhitung enggak murah. Pelek Jepang bekas berdiameter 19 inci bisa sampai belasan juta juga. Untuk mengakali tingginya harga, maka modifikasi mobil pun mesti pakai strategi efisiensi.

Artinya, mobil tetap fungsional, harga terjangkau tapi tampilan menarik. Pelek Taiwan dengan desain copy-an pelek Jepang seperti SSR, Work atau Volk Racing, bakal tetap jadi primadona. “Kalau untuk mobil kecil atau sedan, rata-rata pelek ukuran antara 17 sampai 18 inci. Pelek 20 ke atas masih dipakai, tapi untuk SUV,” jelas Agus.

Untuk modifikasi mobil yang efisien, gaya paling tepat ya apalagi kalau enggak daily use alias simpel. Karakternya bisa saja racing atau elegan, tergantung selera dan pilihan aksesori. “Gaya racing enggak ada matinya, variasi aksesorinya banyak banget. Noblesse yang biasanya cuma bikin body kit elegan aja sekarang keluarin versi racingnya, Noblesse Pentium Sport,” papar penggemar gadget ini.

Enggak cuma pelek dan bodi kit, minimalisasi juga akan terjadi pada gaya body art seperti airbrush. Body art dengan karakter simpel akan lebih disukai, karena tidak terlalu mencolok dan bisa dipakai untuk sehari-hari.

“Tahun 2005-2007 gayanya ekstrem dengan warna-warna mencolok seperti stabilo atau scotlight. Akhir 2008 ke 2009 ini terjadi perubahan, lebih kalem. Warna-warna seperti putih mutiara, silver atau gold lebih disukai. Warna cerah seperti kuning atau oranye masih dipakai, tapi pakai xirallic jadi enggak mencolok sekali. Untuk cat bodi, seperti tahun lalu putih masih banyak disukai. Cat custom seperti bunglon yang harganya mahal itu sudah lewat masanya sejak tahun lalu,” papar Tomi dari Tomi Airbrush.

Seperti warna, perubahan gaya body art tahun ini juga terlihat pada motif atau grafisnya. Di ajang kontes modifikasi, motif ‘ramai’ seperti lidah api di berbagai bagian mobil, dengan warna-warna candy yang mencolok masih disukai karena lebih mencuri perhatian.

Tapi untuk daily use atau yang sekadar ingin terlihat beda, grafisnya cenderung simpel dengan stripping di kedua sisi bodi saja. Tampilannya tidak mencolok tapi terlihat beda, dengan kombinasi 2 warna saja atau gradasi. “Karena lebih fungsional. Mobil yang dimodifikasi masih bisa dipakai untuk harian, enggak perlu ganti mobil. Motif ekstrem juga butuh biaya lebih tinggi,” bilang seniman airbrush yang berpraktek di Pademangan, Jakut ini.

otomotifnet.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar