Selasa, 30 Maret 2010

Perkembangan Properti di Jabodetabek

Industri properti Jakarta dan Bodetabek masih bergairah. Pemilik uang masih melihat peluang investasi di bidang properti menguntungkan. Lihatlah pusat-pusat perbelanjaan yang dilengkapi dengan pusat gaya hidup, apartemen, dan gedung perkantoran terus dibangun di berbagai wilayah.

Menurut kalangan pelaku bisnis
properti, sebanyak 22,5 juta penduduk Indonesia menerima pendapatan per kapita 6.000 dollar AS dan 22,5 juta lainnya menerima 3.000 dollar AS. Berarti ada 50 juta penduduk Indonesia yang menerima pendapatan 3.000 dollar AS ke atas. Jumlah kelas menengah ini diperkirakan akan terus bertambah dan sebagian naik kelas.


Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sudah mencanangkan kawasan Jalan Dr Satrio sebagai kawasan wisata belanja yang memiliki trotoar lebar yang memanjakan pejalan kaki, seperti Orchard Road di Singapura, Bintang Walk di Kuala Lumpur, atau Champ Elysees di Paris.


Sebenarnya, pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta sudah lebih bagus dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Lihatlah Grand Indonesia Shopping Town seluas 250.000 meter persegi dan Plaza Indonesia (62.747 m) di kawasan Bundaran HI di jantung Jakarta, Pacific Place (73.016 m) di kawasan bisnis Sudirman, Senayan City dan Plaza Senayan di kawasan Senayan, serta Mal Pondok Indah di kawasan Pondok Indah.


Tahun 2008-2009, sebanyak 10 pusat perbelanjaan baru dibuka di Jabodetabek. Menurut catatan Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI), pusat perbelanjaan itu adalah FX Lifestyle Mall (30.000 m) di kawasan Sudirman dan Plaza Indonesia Extension (45.325 m) di kawasan Thamrin (Jakarta Pusat), Pejaten Village (58.000 m) di kawasan Warung Buncit dan Blok M Square (185.000 m) di kawasan Blok M (Jakarta Selatan).


Empat pusat belanja di Jakarta Utara bersaing ketat, yaitu Pluit Junction (50.000 m), Pluit Village (86.588 m), Emporium Pluit Mall (170.000 m) di kawasan Pluit, dan Mall of Indonesia, Kelapa Gading Square di kawasan Kelapa Gading.


Timbul pertanyaan besar, mengapa kian banyak pemodal dan pemilik uang membangun dan membeli
properti di Jakarta dan Bodetabek?


Pengamat properti Panangian Simanungkalit berpendapat, dibandingkan dengan properti di Singapura, Malaysia, Thailand, Australia, Jepang, Hongkong, dan Amerika Serikat, nilai properti di Indonesia, khususnya
properti Jakarta dan Bodetabek, terus meningkat.


”Saat krisis global seperti sekarang, nilai properti di banyak negara jatuh, tetapi di Jakarta, nilai properti malah naik. Properti di Indonesia tidak bergantung pada orang asing seperti di Thailand. Para pemain properti sebagian besar orang Indonesia,” ungkap Panangian.


Dia memprediksikan properti di Jabodetabek akan mengalami booming pada tahun 2011. ”Saya optimistis karena ini faktor siklus yang berjalan alamiah. Apalagi suku bunga akan turun lagi. Jadi pemilik uang tidak ragu-ragu membelanjakan properti karena pasti mendatangkan keuntungan berlipat ganda,” ujarnya.


Seandainya orang Indonesia yang memiliki properti di banyak negara menjualnya kembali, lalu membeli properti baru di Jakarta, properti Indonesia diprediksi akan semakin bergairah.


Saat ini, menurut catatan Panangian, ada 140.000 unit properti milik orang Indonesia di luar negeri dengan nilai seluruhnya Rp 700 triliun atau rata-rata Rp 5 miliar per unit.


Properti di Jakarta di lokasi emas antara lain Kuningan, Gatot Subroto, MH Thamrin, Pondok Indah, Dharmawangsa, Kemang, Permata Hijau, Simprug, Blok M, Fatmawati, Tanjungduren, Kembangan, Kebon Jeruk, Kelapa Gading, Pantai Indah Kapuk, Pluit, dan Ancol.


Properti di kawasan-kawasan ini terus tumbuh dan berkembang. Dalam waktu singkat, nilai tanah dan bangunan menjadi berlipat ganda.


www.raywhitegading.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar