Rabu, 02 September 2009

Desain Dapur Sekaligus Ruang Keluarga

Ingat serial TV The Cosby Show? Serial keluarga yang populer pada tahun 1980-an itu sering sekali menggunakan dapur sebagai setting. Sebagian besar kegiatan berawal dari dapur. Dapur dijadikan tempat berkumpul yang menyenangkan. Memasak, ngobrol, tukar pikiran, bahkan belajar pun sering dilakukan di tempat itu.

Ide menjadikan
desain dapur bukan hanya sebagai tempat memasak sebenarnya bukan monopoli kebudayaan Barat. Seorang teman yang asli Betawi bercerita bahwa ketika ia masih kecil (tahun 1980-an), neneknya melakukan hal yang sama. Dapur si nenek yang berukuran sekitar 4 m x 5 m menjadi tempat yang asyik untuk berkumpulnya anggota keluarga. Di salah satu sisi desain dapur terdapat 2 buah kompor kecil, yang dulu berupa tungku kayu. Di sebelahnya ada gerobog (lemari keci, bisa juga kitchen set) untuk meletakkan bahan makanan. Bumbu-bumbu dan alat-alat kecil lainnya ditaruh di dake-dake (bilah-bilah kayu yang diletakkan di tembok).


Di sisi yang lain terdapat meja besar dari kayu yang digunakan untuk menyiapkan makanan. Di meja itu juga, cucu-cucu si nenek ini duduk sambil mengobrol dan memerhatikan beliau memasak. Kalau makanan sudah siap, meja itu beralih fungsi menjadi meja makan untuk semua anggota keluarga.


Seperti kebanyakan dapur masyarakat Betawi Tengah, dapur terhubung dengan teras belakang yang penuh dengan pohon salak dan nangka. Di sana, di bawah jendela berjeruji kayu, terdapat bale-bale. Konon, bale-bale ini sering digunakan para lelaki yang pulang milir (bekerja) untuk beristirahat sambil menunggu masakan istrinya. Bale-bale ini juga sering digunakan para ibu untuk memotong-motong sayuran sambil mengobrol dengan tetangga.


Dapur + Ruang Makan
Nah, jika ingin membuat dapur menjadi ruang keluarga yang menyenangkan, ikuti saja trik yang biasa digunakan para desainer, yaitu menggabungkan dapur dengan desain ruangan makan. Dengan cara ini, dapur terlihat lebih luas dan bisa menjadi desain ruangan multifungsi.

Interior ruang
makan bisa digunakan untuk mewadahi kegiatan anak ketika sang ibu memasak. Jika dapur terletak terpisah, otomatis ibu mesti bolak-balik dari dan ke dapur demi menjaga si buah hati.


Fungsional, Nyaman, dan Aman
Sebagai tempat berkumpul, dapur mesti dibuat fungsional, nyaman, dan aman. Perhatikan penempatan setiap elemen dapur, termasuk tempat penyimpanan, bak cuci, dan tempat memasak (kompor). Agar dapat bekerja dengan nyaman dan aman, pisahkan antara zona memasak dan zona makan. Pastikan juga tersedia ruang sirkulasi yang cukup dari zona memasak ke zona makan, dan sebaliknya.

Pertukaran udara menjadi hal yang penting jika ingin dapur jadi tempat yang nyaman. Terbayang kan bila asap memenuhi dapur? Tentu tak seorang pun betah berlama-lama di sana. Jendela yang lebar atau sebuah cooker hood dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah asap di dapur.


“Let The View In”
Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, apalagi yang dapat dilakukan? Coba ingat kebiasaan bersantap anggota keluarga atau kenangan masa kecil Anda. Mungkin saja Anda terbiasa makan di alam bebas, atau malah terbiasa makan di pinggir sungai sambil mendengar gemericik air.

Anda bisa menghadirkan suasana alam itu di
interior ruang dapur Anda. Bagi yang rumahnya bebas dari binatang pengganggu, bisa membuat dapur dan ruang makan terbuka, langsung berbatasan dengan taman. Tapi bagi Anda yang tidak mungkin membuat dapur terbuka, Anda bisa menggunakan jendela-jendela lebar. Intinya, biarkan pemandangan masuk sebanyak-banyaknya ke dalam arsitektur ruang dapur Anda. Dijamin, berkumpul di dapur akan jadi hal yang menyenangkan.


www.kompas.com


Dukung kampanye
stop dreaming start action

Tidak ada komentar:

Posting Komentar